Geografi
Daerah dataran
rendah di Kota Semarang sangat sempit, yakni sekitar 4 kilometer dari garis
pantai. Dataran rendah ini dikenal dengan sebutan kota bawah.
Kawasan kota bawah seringkali dilanda banjir, dan di sejumlah kawasan, banjir
ini disebabkan luapan air laut (rob). Di sebelah selatan merupakan dataran
tinggi, yang dikenal dengan sebutan kota atas, di antaranya
meliputi Kecamatan Candi, Mijen, Gunungpati,Tembalang dan Banyumanik. Pusat
pertumbuhan di Semarang sebagai pusat aktivitas dan aglomerasi penduduk muncul
menjadi kota kecil baru, seperti di Semarang bagian atas tumbuhnya daerah
Banyumanik sebagai pusat aktivitas dan aglomerasi penduduk Kota Semarang bagian
atas menjadikan daerah ini cukup padat. Fasilitas umum dan sosial yang
mendukung aktivitas penduduk dalam bekerja maupun sebagai tempat tinggal juga
telah terpenuhi. Banyumanik menjadi pusat pertumbuhan baru di Semarang bagian
atas, dikarenakan munculnya aglomerasi perumahan di daerah ini. Dahulunya
Banyumanik hanya merupakan daerah sepi tempat tinggal penduduk Semarang yang
bekerja di Semarang bawah (hanya sebagai dormitory town). Namun saat ini daerah
ini menjadi pusat aktivitas dan pertumbuhan baru di Kota Semarang, dengan
dukungan infrastruktur jalan dan aksessibilitas yang terjangkau. Fasilitas
perdagangan dan perumahan baru banyak bermunculan di daerah ini, seperti
Carefour, Mall Banyumanik, Ada Swalayan, Perumahan Banyumanik, Perumahan Pucang
Gading, dan fasilitas pendidikan baik negeri maupun swasta, seperti Undip,
Polines, Unika, dll, dengan dukungan akses jalan tol dan terminal moda yang
memperlancar transportasi. Cepatnya pertumbuhan di daerah ini dikarenakan
kondisi lahan di Semarang bawah sering terkena bencana rob banjir.
Sejarah
Sejarah Semarang
berawal kurang lebih pada abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama
Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada
masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau
kecil. Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung,
gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Bagian kota Semarang Bawah
yang dikenal sekarang ini dengan demikian dahulu merupakan laut. Pelabuhan
tersebut diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk
ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar
pada tahun 1405 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan
kelenteng dan mesjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu).
Pada akhir abad
ke-15 M ada seseorang ditempatkan oleh Kerajaan Demak, dikenal sebagai Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran
I), untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Dari waktu ke
waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon
asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan
gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang.
Sebagai pendiri
desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya,
pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II (kelak
disebut sebagai Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran II atau Sunan Pandanaran Bayat atau Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Pandanaran saja).
Di bawah pimpinan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan
pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena
persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan
Semarang setingkat dengan Kabupaten. Pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatan
dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H
disahkan oleh Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga.
Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang.
Kemudian pada
tahun 1678 Amangkurat II dari Mataram, berjanji kepada VOC untuk memberikan Semarang
sebagai pembayaran hutangnya, dia mengklaim daerah Priangan dan pajak dari
pelabuhan pesisir sampai hutangnya lunas. Pada tahun 1705 Susuhunan
Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya
karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi
menjadi kota milik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda.
Pada tahun 1906
dengan Stanblat Nomor 120 tahun 1906 dibentuklah Pemerintah Gemeente.
Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Wali kota).
Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh orang-orang Belanda berakhir pada tahun
1942 dengan datangya pemerintahan pendudukan Jepang.
Pada masa Jepang terbentuklah
pemerintah daerah Semarang yang dikepalai Militer (Shico)
dari Jepang. Didampingi oleh dua orang wakil (Fuku Shico) yang masing-masing
dari Jepang dan seorang bangsa Indonesia. Tidak lama sesudah kemerdekaan, yaitu
tanggal 15 sampai 20 Oktober 1945 terjadilah peristiwa kepahlawanan
pemuda-pemuda Semarang yang bertempur melawan balatentara Jepang yang
bersikeras tidak bersedia menyerahkan diri kepada Pasukan Republik. Perjuangan
ini dikenal dengan nama Pertempuran Lima Hari.
Tahun 1946 Inggris atas
nama Sekutu menyerahkan
kota Semarang kepada pihak Belanda. Ini terjadi pada tanggal l6 Mei 1946.
Tanggal 3 Juni 1946 dengan tipu muslihatnya, pihak Belanda menangkap Mr. Imam
Sudjahri, wali kota Semarang sebelum
proklamasi kemerdekaan. Selama masa pendudukan Belanda tidak ada pemerintahan
daerah kota Semarang. Namun para pejuang di bidang pemerintahan tetap
menjalankan pemerintahan di daerah pedalaman atau daerah pengungsian di luar
kota sampai dengan bulan Desember 1948. daerah pengungsian berpindah-pindah
mulai dari kota Purwodadi, Gubug, Kedungjati, Salatiga, dan akhirnya di
Yogyakarta. Pimpinan pemerintahan berturut-turut dipegang oleh R Patah,
R.Prawotosudibyo dan Mr Ichsan. Pemerintahan pendudukan Belanda yang dikenal
dengan Recomba berusaha membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti pada
masa kolonial dulu di bawah pimpinan R Slamet Tirtosubroto. Hal itu tidak
berhasil, karena dalam masa pemulihan kedaulatan harus menyerahkan kepada
Komandan KMKB Semarang pada bulan Februari 1950. tanggal I April 1950 Mayor
Suhardi, Komandan KMKB. menyerahkan kepemimpinan pemerintah daerah Semarang
kepada Mr Koesoedibyono, seorang pegawai tinggi Kementerian Dalam Negeri di
Yogyakarta. Ia menyusun kembali aparat pemerintahan guna memperlancar jalannya
pemerintahan.
Daftar wali kota
Sejak 1945
Sejak tahun 1945
para wali kota yang memimpin kota besar Semarang yang kemudian menjadi Kota
Praja dan akhirnya menjadi Kota Semarang adalah sebagai berikut:
- Mr. Moch.lchsan
- Mr. Koesoebiyono (1949–1 Juli 1951)
- RM. Hadisoebeno Sosrowerdoyo (1 Juli 1951–1
Januari 1958)
- Mr. Abdulmadjid Djojoadiningrat (7 Januari
1958–1 Januari 1960)
- RM Soebagyono Tjondrokoesoemo (1 Januari
1961–26 April 1964)
- Mr. Wuryanto (25 April 1964–1 September
1966)
- Letkol. Soeparno (1 September 1966–6 Maret
1967)
- Letkol. R.Warsito Soegiarto (6 Maret 1967–2
Januari 1973)
- Kolonel Hadijanto (2 Januari 1973–15 Januari
1980)
- Kol. H. Iman Soeparto Tjakrajoeda SH (15
Januari 1980–19 Januari 1990)
- Kolonel H. Soetrisno Suharto (19 Januari
1990–19 Januari 2000)
- H. Sukawi Sutarip SH. (19 Januari 2000–2010)
- Drs.H.Soemarmo HS, MSi / Hendrar Prihadi,
SE, MM. (2010–sekarang)
Daftar
penguasa Semarang
- Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III (1553-1586)
- Mas R.Tumenggung Tambi (1657-1659)
- Mas Tumenggung Wongsorejo (1659 - 1666)
- Mas Tumenggung Prawiroprojo (1666-1670)
- Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674)
- Kyai Mertonoyo, Kyai Tumenggung Yudonegoro
atau Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701)
Di bawah VOC
- Raden Martoyudo atau Raden Sumoningrat
(1743-1751)
- Marmowijoyo atau Sumowijoyo atau Sumonegoro
atau Surohadimenggolo (1751-1773)
- Surohadimenggolo IV (1773-?)
- Adipati Surohadimenggolo V atau kanjeng
Terboyo (?)
Pemerintahan
Hindia Belanda
- Raden Tumenggung Surohadiningrat (?-1841)
- Putro Surohadimenggolo (1841-1855)
- Mas Ngabehi Reksonegoro (1855-1860)
- RTP Suryokusurno (1860-1887)
- RTP Reksodirjo (1887-1891)
- RMTA Purbaningrat (1891-?)
Pemerintahan
kemudian dibagi 2 : Kota Praja dan Kabupaten. Penguasa pribumi kemudian
menjadi Bupati Semarang:
- Raden Cokrodipuro (?-1927)
- RM Soebiyono (1897-1927)
- RM Amin Suyitno (1927-1942)
- RMAA Sukarman Mertohadinegoro (1942-1945)
Sementara
penguasa Belanda menjadi Wali Kota Semarang:
- D. de Jongh (1916-1927)
- A. Bagchus (1928-1935)
- H.E. Boissevain (1936-1942)
Pemerintahan
Republik Indonesia
- R. Soediyono Taruna Kusumo (1945-1945),
hanya berlangsung satu bulan
- M. Soemardjito Priyohadisubroto (tahun 1946)
Pemerintahan
Republik Indonesia Serikat
- RM. Condronegoro hingga tahun 1949
Setelah pengakuan
kedaulatan
- M. Soemardjito Priyohadisubroto (1946-1952)
- R. Oetoyo Koesoemo (1952-1956).
Kotamadya Semarang
secara definitif ditetapkan berdasarkan UU Nomor 13 tahun 1950 tentang
pembentukan kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Provinsi Jawa Tengah.
Pembagian
administratif
|
Kecamatan
|
Kelurahan
|
|
|
Pudakpayung, Gedawang, Jabungan, Padangsari, Banyumanik, Srondol Wetan, Pedalangan, Banyumanik, Semarang, Sumurboto, Banyumanik, Semarang, Srondol Kulon, Banyumanik, Semarang, Tinjomoyo, Ngesrep
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Gayamsari, Kaligawe, Pandean Lamper,
Sambirejo, Sawahbesar, Siwalan, Tambakrejo,
|
|
|
Bangetayu Kulon, Bangetayu Wetan,
Banjardowo, Gebangsari, Genuksari, Karangroto, Kudu, Muktiharjo Lor,
Penggaron Lor, Sembungharjo, Terboyo Kulon, Terboyo Wetan, Trimulyo
|
|
|
Cepoko, Gunungpati, Jatirejo, Kalisegoro,
Kandri, Mangunsari, Ngijo, Nongkosawit, Pakintelan, Patemon, Plalangan,
Pongangan, Sadeng, Sekaran, Sukorejo, Sumurejo
|
|
|
Bubakan, Cangkiran, Jatibaran, Jatisari,
Karangmalang, Kedungpani, Mijen, Ngadirgo, Pesantren, Polaman, Purwosari,
Tambangan, Wonolopo, Wonoplumbon,
|
|
|
Bambankerep, Beringin, Gondoriyo,
Kalipancur, Ngaliyan, Podorejo, Purwoyoso, Tambak Aji, Wonosari
|
|
|
Gemah, Kalicari, Muktiharjo Kidul,
Palebon, Pedurungan Kidul, Pedurungan Lor, Pedurungan Tengah, Penggaron
Kidul, Plamongan Sari, Tlogomulyo, Tlogosari Kulon, Tlogosari Wetan,
|
|
|
Bojongsalaman, Bongsari, Cabean,
Gisikdrono, Kalibanteng Kidul, Kalibanteng Kulon, Karangayu, Kembangarum,
Krapyak, Krobokan, Manyaran, Ngemplaksimongan, Salamanmloyo, Tambakharjo,
Tawangmas, Tawangsari
|
|
|
Barusari, Bulustalan, Lamper Kidul, Lamper
Lor, Lamper Tengah, Mugassari, Peterongan, Pleburan, Randusari, Wonodri
|
|
|
Bangunharjo, Brumbungan, Gabahan, Jagalan,
Karangkidul, Kauman, Kembangsari, Kranggan, Miroto, Pandansari, Pekunden,
Pendrikan Kidul, Pendrikan Lor, Purwodinatan, Sekayu
|
|
|
Bugangan, Karangtempel, Karangturi,
Kebonagung, Kemijen, Mlatibaru, Mlatiharjo, Rejomulyo, Rejosari, Sarirejo,
Bandarharjo
|
|
|
Bulu Lor, Dadapsari, Kuningan, Panggung
Kidul, Panggung Lor, Plombokan, Purwosari, Tanjungmas
|
|
|
Bulusan, Jangli, Kedungmundu, Kramas,
Mangunharjo, Meteseh, Rowosari, Sambiroto, Sendangguwo, Sendangmulyo,
Tandang, Tembalang
|
|
|
Jerakan, Karanganyar, Mangkang Kulon, Mangkang
Wetan, Mangunharjo, Randu Garut, Tugurejo
|
Penduduk
Semarang pada
tahun 1770.
Penduduk Semarang
umumnya adalah suku Jawa dan menggunakan Bahasa Jawa sebagai
bahasa sehari-hari. Agama mayoritas yang dianut adalah Islam. Semarang memiliki
komunitas Tionghoa yang
besar. Seperti di daerah lainnya di Jawa, terutama di Jawa Tengah, mereka sudah
berbaur erat dengan penduduk setempat dan menggunakan Bahasa Jawa dalam
berkomunikasi sejak ratusan tahun silam.
Olahraga
PSIS Semarang merupakan
satu-satunya klub sepak bola profesional di Kota Semarang. Pada musim 1999,
PSIS berhasil menjadi juara Liga Indonesia, namun pada musim kompetisi 2000
terdegradasi ke Divisi I. Pada musim 2006 bermain di Divisi Utama Liga Djarum Wilayah 1
dan meraih juara kedua setelah dalam final kalah 0–1 oleh Persik Kediri Pada
tahun ini PSIS kembali berlaga di Indonesia Super League tanpa dana bantuan
APBD sama sekali.
Semarang United FC merupakan klub sepak
bola yang mengikuti turnamen dalam ajang Liga Primer Indonesia.
Julukan
Kota Semarang
mempunyai julukan sebagai:
Semarang dilalui
banyak sungai di tengah kota seperti di Venice (Italia),
sehingga Belanda menyebut
Semarang sebagai Venice van Java.
Lumpia adalah
makanan khas Semarang, yang terbuat dari akulturasi 2 budaya yaitu budaya Jawa
dan China.
Semarang memiliki
semboyan Kota ATLAS akronim (Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat), sebagai
slogan pemeliharaan keindahan kota.
Untuk kepentingan
pemasaran pariwisata, Walikota Semarang mengambil slogan pariwisata Semarang,
The Port of Java (Pelabuhannya Jawa) sebagai upaya pencitraan kota Semarang
sebagai pusat Pelabuhan Jawa.
Pariwisata
Obyek Wisata
Lawang Sewu
Wisata Alam
Wisata Sejarah
Wisata Religi
Wisata Keluarga
Wisata Belanja
Acara
Kuliner
Masakan
Makanan khas
Semarang antara lain adalah:
Jajan
Jajanan Pasar khas
Semarang antara lain adalah:
Minuman
Minuman khas
Semarang antara lain adalah:
Oleh-Oleh
Transportasi
Kota Semarang
dapat ditempuh dengan perjalanan darat, laut, dan udara. Semarang dilalui
jalur pantura yang
menghubungkan Jakarta dengan kota-kota di pantai utara Pulau Jawa. Saat ini
sedang dibangun jalan tol yang menghubungkan Semarang dengan Solo,
kota terbesar kedua di Jawa Tengah. Angkutan bus antarkota dipusatkan di Terminal Terboyo. Angkutan
dalam kota dilayani oleh bus kota, angkot, dan becak. Pada tahun 2009 mulai
beroperasi Bus Rapid Transit (BRT),sebuah moda angkutan massal
meskipun tidak menggunakan jalur khusus seperti busway di Jakarta.
Semarang memiliki
peranan penting dalam sejarah kereta api Indonesia. Di sinilah tonggak pertama
pembangunan kereta api Hindia Belanda dimulai, dengan pembangunan jalan kereta
api yang dimulai dari desa Kemijen menuju desa Tanggung sepanjang 26 Km) dengan
lebar sepur 1435 mm. Pencangkulan pertama dilakukan oleh Gubernur Jenderal
Hindia Belanda, Mr LAJ Baron Sloet van den Beele, Jumat 17 Juni 1864. Jalan
kereta api ini mulai dioperasikan untuk umum Sabtu, 10 Agustus 1867.
Pembangunan jalan
KA ini diprakarsai sebuah perusahaan swasta Naamlooze Venootschap Nederlandsch
Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM) (terjemahan: Perseroan tak bernama
Perusahaan Kereta Api Nederland-Indonesia) yang dipimpin oleh Ir JP de Bordes.
Kemudian, setelah ruas rel Kemijen - Tanggung, dilanjutkan pembangunan rel yang
dapat menghubungkan kota Semarang - Surakarta (110 Km), pada 10 Februari 1870.
Semarang memiliki dua stasiun kereta api: Stasiun Semarang Tawang untuk kereta api
kelas bisnis dan eksekutif, serta Stasiun Semarang Poncol untuk kereta api
kelas ekonomi dan angkutan barang. Kereta api di antaranya jurusan
Semarang-Jakarta, Semarang-Bandung, Semarang-Surabaya, Jakarta-Semarang-Jombang,
Jakarta-Semarang-Malang, Semarang-Tegal, dan Semarang-Bojonegoro.
Angkutan udara
dilayani di Bandara Ahmad Yani, menghubungkan Semarang
dengan sejumlah kota-kota besar Indonesia setiap harinya. Sejak tahun 2008
Bandara Ahmad Yani menjadi bandara Internasional dengan adanya penerbangan
langsung ke luar negri, contohnya ke Singapura dan Kualalumpur. Pelabuhan Tanjung Mas menghubungkan
Semarang dengan sejumlah kota-kota pelabuhan Indonesia; pelabuhan ini juga
terdapat terminal peti kemas.
Untuk memperlancar
jalur transportasi ke arah kota/kabupaten di Jawa Tengah di Bagian Selatan
terutama jalur padat Semarang-Solo, saat ini sedang dibangun Jalan Tol
Semarang-Solo. Pada tahap pertama, pembangunan jalan tol tersebut telah
dioperasikan sebagian, yaitu Semarang-Ungaran yang telah mulai digunakan tahun
2011.
Pendidikan
Semarang terdapat
sejumlah perguruan tinggi ternama baik negeri maupun swasta. Berdasarkan data
dari DAPODIK Kota Semarang 2010/2011, perguruan tinggi di Kota Semarang :
Selain itu di Semarang juga terdapat beberapa Sekolah Menengah Atas sangat baik
dan unggul ,swasta maupun negeri terkemuka,
Sekolah Menengah
Negeri Tersebut antara lain:
Sekolah Menengah Swasta Tersebut antara lain:
Media
Surat kabar yang
terbit di Semarang antara lain: Harian Semarang (HarSem), Radar Semarang dan Meteor (Grup Jawa Pos), Suara Merdeka, Wawasan (Suara Merdeka Grup).
Televisi lokal di Semarang adalah Semarang TV, TV Borobudur, Pro TV, Kompas TV dan TVKU. Radio di kota
Semarang banyak diantaranya adalah Gajah Mada, Pop FM, CFM, 90.2 Trax FM, RCT, IBC, Smart FM, Sindo Radio FM, PAS FM, 92.6 FM Radio Idola, 88.6 ( Rhema FM) dan 102 FM Prambors Radio.
Kota kembar
Lain-lain
- Semarang memiliki slogan sebagai Kota
ATLAS (Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat).
- Di antara rumah sakit besar di Semarang
antara lain: RSUP Dr. Karyadi,
RSUD Kota Semarang, RSU Rumah Sakit
Tlogorejo, Rumah Sakit
Elizabeth, Rumah Sakit
Panti Wilasa Citarum, Rumah Sakit
Panti Wilasa Dr. Cipto, RSU PKU Muhammadiyah Roemani, RSB Bunda,RSB Hermina Rumah Sakit
William Both dan Rumah Sakit
Islam Sultan Agung (RSISA).
- Beberapa pasar besar a.l: ps.Johar,
ps.Peterongan, ps.Jatingaleh, ps.Banyumanik, ps.Kobong, ps.Karangayu,
ps.Bulu, ps.Gang Baru dll.
- Perusahaan Farmasi antara lain Phapros, Saka Farma, DGPharm, Zenith
- Pabrik Jamu antara lain Jamu Jago,
Sido Muncul, Nyonya Meneer, Jamu Leo dll
- Pernah populer penggunaan bahasa pergaulan
yang disebut bahasa Walikan
Seniman dan
selebriti
- Tukul Arwana,
pelawak dan presenter talkshow Bukan Empat Mata di stasiun televisi Trans
7.
- Ki Joko
Hadiwijoyo, dalang wayang kulit asal Kota Semarang.
- Ki Nartosabdho,
dalang Wayang kulit asal Kota Semarang kelahiran Klaten yang meninggal
pada tahun 1985 lalu.
- Tradisi Gila, grup
musik punk tock asal Kota Semarang yang menjadi grup band indie terbesar
di Kota Semarang yang namanya melambung lewat lagu "Tattonesia".
- Anne Avantie,
desainer kondang
- Asty Ananta,
pemain sinetron dan pembawa acara
- Tia
AFI, pemenang AFI indosiar
- Power Slaves, band
rock Indonesia
- Raden Saleh,
pelukis Indonesia
- Philip ten Klooster, pematung Belanda
- Max van Egmond,
penyanyi bas-bariton Belanda
- Daniel Sahuleka, penyanyi Belanda berdarah
Maluku-Tionghoa-Sunda
- Nedly Andrew
Girke Elstak, komponis, peniup terompet, dan pianis jazz
Belanda
- Johanna Carolina van der Wal, musikus
dan pianis Belanda
- Robert Maingay, pematung
Belanda